Kamis, 31 Januari 2008



Puluhan Kader Partai Pengusung SBY Mengamuk
Gulingkan Papan Partai dan Desak Ketua Mundur

JEMBER- Amuk massa kembali dilakukan puluhan kader Partai Demokrat (PD) Jember. Dikantornya di Jalan S Parman 42 mereka membakar sejumlah spanduk bernada menghujat kepengurusan partai dan karpet yang biasa digunakan untuk rapat kader dan pengurus. Selain itu, mereka juga mencopoti dan menurunkan bendera partai dan kemudian merobohkan papan nama Partai Demokrat. Belum puas, mereka mendobrak paksa pintu masuk utama kantor. Didalam kantor itu terdapat sejumlah bungkusan beras dan akhirnya dikeluarkan untuk dibagikan kepada warga.Sebelumnya puluhan kader partai pengusung presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu sempat mengetahui salah satu pengurus DPC PD Jember Gus Joyo Setiawan rapat di kantor Badan Kesatuan Bangsa (Bkesbang) Jember. Kantor itu hanya berjarak 10 meter berhadapan dengan kantor DPC PD. Gus Joyo akhirnya diminta keluar dari rapat dan didesak untuk menemui kader yang tengah melakukan demo di kantor partai. "Kita minta agar dia (Gus Joyo) menjelaskan keadaan partai yang sudah kacau balau ini," timpal Edi Mulyo yang juga Forum Penyelamat Partai Demokrat (FPPD) Jember, Kamis (31/1). Saat Gus Joyo memasuki kantor, nyaris terjadi adu fisik dan sejumlah massa mencemooh soal keterwakilan dia dalam menghadapi pendemo. Dia sempat disandera oleh sejumlah massa beberapa menit, namun berhasil melarikan diri dan menuju ke kantor Bakesbang lagi. Sebelumnya mengumpulkan massa di depan Gedung DPRD Jember. Mereka yang kecewa dengan kepengurusan partai itu juga melakukan orasi bersama 22 pengurus pimpinan anak cabang. Dalam pernyataan sikapnya yang bernada melakukan penggembosan partai, massa yang menamakan diri FPPD Jember itu juga mendesak agar Ketua PD Saptono Yusuf agar mengundurkan diri. Selain itu Saptono selama ini dianggap masih belum mengantongi secara resmi surat keputusan kepengurusan dari Dewan Pimpinan Pusat PD. "Saptono sampai saat ini selalu pilih-pilih untuk mengajak rapat pengurus, bahkan tidak pernah melakukan rapat pleno seperti yang diatur dalam anggaran dasar dan aggaran rumah tangga partai," katanya.Hal yang sama juga diungkapkan Ketua PAC Rambipuji Fathur Amin yang menganggap surat keputusan kerteker terhadap 19 ketua PAC tanpa teguran tertulis atupun lisan, tanpa surat peringatan dan bahkan tanpa surat pemberhentian terhadap PAC yang masih sah."Saptono juga telah memberikan laporan palsu kepada DPD dan DPP terkait daftar peserta Rakornas di Semarang. Melaksanakan Musancab secara sembunyi-sembunyi dan banyak melaklukan kebohongan terhadap kader partai," urainya.Dalam aksi itu kader PD Jember berkomitmen jika permasalahan internal partai tidak diselesaikan dan Saptono tidak mau mundur, maka mereka akan melakukan segala cara untuk melakukan penggembosan terhadap partai.Mereka juga sempat menyinggung soal bantuan partai sebesar Rp 80 juta yang selama ini penggunaanya tidak transparan."Kita akan lakukan penggembosan besar-besaran yakni jangan sampai memilih partai demokrat dalam pemilu nanti," ujarnya.Sedangkan Ketua PD Jember Saptono Yusuf saat dikonfirmasi melalui ponselnya tidak diaktifkan. Namun sejumlah pengurus mengatakan kalau Saptono sedang rapat bersama di kantor DPD PD Jawa Timur di Surabaya.Salah seorang pengurus DPC PD Jember wakil sekretaris Bidang pemuda Gus Joy Setiawan menyayangkan aksi massa yang dilakukan oleh puluhan kader partai. Apalagi sampai melakukan pembakaran dan menurunkan bendera serta papan nama Partai Demokrat."Itu kan aset partai, sayang sekali kalau dirusak," kata Gus Joyo Setiawan. Soal desakan mundur kepada Saptono Yusuf, ia mengatakan harus didasari secara kuat apa saja yang dianggap telah melakukan pelanggaran partai."Desakan mundur kan dilihat dulu. Kalau melanggar aturan tolong ditunjukkan yang mana, klo tidak ya tidak bisa. Jangan ngawur begitu," katanya.Ia juga menginginkan kalau ada sejumlah kader yang ingin menyampaikan aspirasinya maka harus disampaikan secara resmi melalui musyawarah dengan pengurus."Atas instruksi DPP, kalau ada ader yang ingin menyampaikan sesuatu, maka mesti kirim atau surat sharing. Atau kalau tidak, bisa mengajukan ajukan surat ke DPD atau DPP," katanya. (p juliatmoko)


Banjir Pasuruan Batalkan 4 Jadwal KA

JEMBER -- Banjir bandang melanda Pasuruan sejak Rabu (30/1) sekitar pukul 22.00 WIB menyebabkan 4 jadwal kereta api di PT KAI Daops terpaksa batal. Empat jadwal kereta api itu yakni kereta api Cantik, kereta api Sri Tanjung, kereta api Mutiara Siang dan kereta api Tawang Alun dan Logawa yang hanya sampai jalur Probolinggo saja karena sudah terlanjur berangkat. Selain itu kereta api jurusan dari Surabaya maupun Purwokerto juga tidak bisa menuju Jember dan Banyuwangi.Rel tergenang antara Bangil dan Pasuruan pada kilometer 58 + 7/0 dengan ketinggian air mencpai 25 sampai 60 centimeter. Sedangkan pada rel kilometer 59 + 0/1 ketinggian air mencapai lebih dari 50 centimeter. Selain itu rel antara Pasuruan dan Keraton pada kilometer 66 ketinggian air mencapai 20 centimeter dan air hingga saat kemarin dilaporkan sudah mulai menyusut. Akibat genangan air itu, rel kereta yang terdapat batuan kricak sempat terhanyut dan mengakibatkan beberapa meter rel nampak mengantung setinggi 50 centimeter."Sudah sejak tadi malam untuk jalan raya masih tergenang air dan kendaraan belum bisa lewat. Begitupula dengan kereta api dari dan menuju kota Jember," kata Kepala Pengawas PT KAI Daops IX Jember Eko Suminto, Kamis (31/1).Ia juga mengatakan saat air sudah benar-benar menyusut, maka pihak PT KAI Daops IX akan melakukan pengecekan untuk menghindari kerusakan rel yang akan dilewati kereta api. (p juliatmoko)

Senin, 28 Januari 2008


Ada-ada saja..., Remaja Soehartomania Aksi Duo

JEMBER -Dua remaja masing -masing bernama Dwi (26) dan Roni Aprilianto (25) yang tergabung dalam Komunitas Anak Bangsa (KAB) Jember berdemonstrasi. Aksi kali bukan untuk menghujat, namun sebagai wujud solidaritas dan duka cita terhadap meninggalnya mantan Presiden RI Kedua Soeharto. Aksi sambil membawa poster dan bendera setengah tiang itu mereka lakukan di halaman depan dan bundaran DPRD Jember. Mereka menundukkan kepala sejenak dan kemudian berjalan kaki mengelilingi bundaran DPRD Jember beberapa kali dan menyampaikan kabar meninggalnya Soeharto. Sejumlah poster bergambar Soeharto yang mereka bawa juga muncul tulisan yakni "Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Bapak Soeharto" dan "Selamat Jalan Bapak Pembangunan".Aksi itu memang menarik perhatian pengguna jalan, sebab selain mereka mengenakan semacam blangkon, juga mengenakan kaos dan celana dominan warna hitam sebagai tanda belasungkawa. Setelah melakukan aksi, mereka sempat salam-salaman ke sejumlah pedagang maupun pembeli di kawasn kaki lima Jalan Bengawan Solo. Tidak ada penjagaan khusus dari aparat kepolisan seperti halnya demonstrasi
yang pernah ada sebelumnya. Salah seorang remaja, Roni Aprilianto (25) mengatakan, apa yang mereka lakukan itu sebagai wujud untuk menghormati jasa-jasa Soeharto yang dianggap pernah membesarkan bangsa Indonesia semasa dia memimpin. Pria yang ngefans dengan Soeharto sejak keil ini mengaku memampang foto bergambar Soeharto di kamar tidurnya. "Apa yang pernah dia kerjakan, setidaknya pernah dinikmati masyarakat Indonesia. Jangan hanya bicara yang buruk, tapi juga jangan lupakan jasa-jasa bapak pembangunan bangsa ini," aku Roni yang maniak sekali dengan Soeharto ini, kemarin.Sedangkan Dwi masih saja tetap berharap agar semua kasus hukum yang pernah dilakukan oleh Soeharto tetap diusut tuntas melalui jalur hukum. Selain itu melalui ahli waris yang ada maka tanggungjawab secara hukum tetap saja harus dilakukan. Sedangkan dari Kab Bondowoso juga dilaporkan sejumlah kyai dan ribuan santri di Pondok Pesantren Al Islah melakukan shalat Ghaib sebagai wujud turut berduka cita atas meninggalnya Soeharto. Dalam shalat Ghaib itu juga melibatkan ratusan warga setempat. (p juliatmoko)

Perhutani Didemo Ratusan Pesanggem

JEMBER -Ratusan pengelola hutan atau pesanggem dari Dusun Gondang Desa Darungan Kec Tanggul emosi dan mendemo kantor Kelompok Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Jember, kemarin. Mereka tidak terima dan memprotes menyusul perusakan yang dilakukan oleh oknum Perhutani Jember terhadap ribuan pohon di daerah hutan lindung. Padahal maskud pesanggem setempat melakukan reboisasi di areal hutan dengan berbagai jenis tanaman dan kini rusak. Diantara jenis bibit pohon yang rusak itu yakni cengkeh, apukat dan kopi yang jumlahnya ditaksir sekitar 3.000 pohon. Salah seorang pesanggem, Sumarno mengatakan, dia bersama temany-temannya merasa kesal sebab sudah lama menanami pohon tanah di hutan agar
tidak gundul dan terjadi bencana, namun dirusak."Apalagi yang merusak itu oknum Perhutani, kami meminta administratur Perhutani untuk memberi sanksi petugasitu. Sebab tanaman yang rusak itu jumlah mencapai ratusan hektar," keeluh Sumarno, kemarin.Pesanggem yang juga mengatasnamakan Gerakan Penghijauan Untuk Kehidupan Jember ini juga membawa sejumlah poster bernada kecaman. Poster itu antara lain berbunyi, "Terbukti LMDH dan Perhutani Gagal Membangun Hutan di Jember", "Pecat oknum Perhutani yang terlibat perusakan hutan",
"Tangkap LMDH dan Perhutani Perusak Hutan dan poster lain yang memanaskan institusi Perhutani Jember.
Sejumlah perwakilan warga juga mendesak kepada Perhutani Jember untuk menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah media massa selama tujuh hari berturut-turut atas kesalahan kerusakan tanaman milik warga di hutan lindung. Hal disampaikan Chaidir Abdul Karim yang menurutnya perusakan oleh oknum petugas Perhutani dan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) sebenarnya sudah terjadi dua kali. Pada tanggal 19 Desember 2007 sebanyak 3.000 pohon cengkeh, apukat, dan kopi rusak dibabat. Menyusul kemudian pada tanggal 4 Januari 2008 yang ada 35 batang pohon kopi yang ditanam warga di wilayah hutan lindung juga rusak dibabat."Oknum petugas itu harus segera ditindak dan kalau perlu dipecat. Agar pembabatan serupa tidak terulang," kata Chaidir Abdul Karim.
Ia juga menambahkan, selama ini warga dan pesanggem sebenarnya sudah memegang surat izin resmi pengelolaan tanaman kopi di hutan dari Perhutani. Hal itu ditindaklanjuti dengan merawat kopi itu dengan baik seperti pula penghijauan yang selama ini terus dilakukan. Ia juga mengungkap, sejumlah kompensasi atas kerugian warga pun harus diperjelas. Sebab warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Peduli Hutan Sukomakmur sudah mengerjakan lahan hutan itu sejak tahun 2003. "Ada dua orang warga divonis satu tahun penjara. Padahal warga itu hanya sebagai merawat kopi. Sementara pejabat asper atau asisten perhutani yang pelaku perusakan tanaman milik warga justru dibiarkan," ungkapnya. Hal yang sama juga dikatakan salah seorang warga, Muhamad. Ia sebelumnya menyatakan mendapat surat dari salah seorang petugas Perhutani sejak Tahun 2000 lalu bernama Damis. Dengan surat itu ia kemudian berani menanami kedelai di areal hutan. Namun saat akan dipanen, justru dirusak
dengan cara membabat oleh sejumlah petugas Perhutani. "Saya tidak tahu-menahu soal surat yang ternyata tidak ada tanda pengesyahannya itu. Yang jelas kami menuntut uang ganti rugi dari Perhutani," ucap Muhammad.Sedangkan Administratur KPH Perhutani Jember Taufik Setiadi mengatakan, ia memang terpaksa melakukan pemotongan sebagian pohon kopi dan
apukat sebab masyarakat dianggap sudah tidak mau menanam tanaman hutan seperti mahoni yang telah disyaratkan oleh Perhutani. "Terbukti di kawasan hutan itu tidak ada sebatang pohonpun tanaman hutan. Padahal warga berada di tengah hutan dan sebenarnya telah menyalahi aturan. Kita yang jelas tidak akan memberi ganti rugi seperti tuntutan warga," timpal Taifik Setiadi.Terpisah, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Jember AKP Kholilur Rochman mengatakan, setelah pihaknya memeriksa dokumen yang dibawa pesanggem, ternyata surat ijin tadi tidak syah. Dalam surat itu tidak ada nomor surat dari Perhutani secara resmi. "Tuntutan masyarakat sebenarnya tidak kuat. Kita menduga tindakan masyarakat karena ulah provokator yang tidak tinggal di kawasan hutan
setempat," duga AKP Kholilur Rochman. (p juliatmoko)

M Y P E O P L E

V i s i t o r

counter